Rekening Emosi, Kunci Membangun Hubungan Baik Dengan Sesama

wpid-mata-uang.jpg w=640

Saat sore menjelang, Sendy dan sahabatnya Gwen sedang berjalan di taman dekat rumah.

Saat perjalanan, Sendy bertemu temannya Dina.

“Hai Sendy, apa kabar, wajahmu tampak cerah sekali hari ini”
Sambil lalu Sendy menjawab, “Ya, terima kasih Dina” mereka berdua terus berjalan meninggalkan Dina.
Gwen bingung melihat respon sahabatnya yang sangat dingin itu.

Beberapa meter kemudian mereka berdua berpapasan dengan Shane.
Shane menyapa duluan, tapi dengan tidak bersemangat.
“Hi Sendy”
Tiba-tiba respon Sendy sangat berbeda dengan saat berjumpa Gwen.
“Halo Shane, kenapa kamu murung, sepertinya kamu sedang kurang sehat Shane!”
Shane mengiyakan kalo dirinya sedang kurang enak badan.

Melihat sahabatnya memiliki respon yang sangat berkebalikan itu Gwen sangat bingung. Lalu Sendy menjelaskan.
“Kamu tidak usah bingung Gwen, Dina biasanya punya perilaku yang tidak baik padaku, jadi saat dia menyapaku tadi, walaupun sikapnya ramah, tapi aku yakin pasti dia ada maunya. Kalau Shane justru sebaliknya, dia adalah orang yang baik, makanya saat dia murung aku langsung sadar bahwa ada yang tidak beres dari sikapnya”.

Seperti layaknya sebuah bank, kita semua memiliki tabungan perbuatan baik ke dalam rekening emosi yang ada pada tiap-tiap orang yang kita temui. Semakin banyak tabungan perbuatan baik terhadap seseorang, maka semakin besar saldo rekening emosi kita pada orang tersebut. Begitu juga sebaliknya, bila kita sering membuat orang yang kita temui sakit hati, kecewa dan bersedih, maka sudah bisa dipastikan saldo rekening emosi kita akan sedikit bahkan mungkin minus.

Sekarang mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah saldo rekening emosi kita sudah positif? Bila kita masih ragu menjawabnya, perbanyaklah berbuat baik, senangkan hati orang-orang yang kita temui, hindari berkonflik, tambahkanlah saldo rekening emosi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *