The Other Eat, Pray, Love at Dieng Plateu

101_8087
Telaga Cebong

One woman’s search for everything accros Italy, India, and Indonesia”, tagline dari kisah perjalanan Elizabeth Gilbert ini sukses menjadi perbincangan banyak orang, apa yang dimaksud dengan “everything”? Ketika penulis melakukan sebuah perjalanan panjang, menghabiskan empat bulan pertamanya di Italy, berburu kuliner dan menikmati kehidupan barunya (Eat), lalu melanjutkan tiga bulan pencarian spiritual di India (Pray), dan mengakhiri pencarian panjangnya di Bali, Indonesia, pencarian yang bermuara pada keseimbangan hidup, dan tanpa disangka dia menemukan kebahagiaannya, seorang pebisnis Brazil yang menjadi pendamping hidupnya (Love). Finally she found “everyhting” after her journey done.

 Sejatinya pencarian ketenangan dan keseimbangan hidup selalu menjadi kebutuhan terpendam setiap individu, dan banyak cara untuk menemukannya, bila karakter yang dalam filmnya diperankan oleh Julia Robert tadi menemukan keseimbangan jiwanya di pulau Dewata (negri para dewa) Bali, kita bergeser sedikit ke pulau Jawa, ada satu lokasi yang juga mendapatkan julukan serupa, tempat tinggal para Dewa, dan identik pula dengan ketenangan dan keseimbangan hidup, cobalah sempatkan waktu untuk relaksasi dengan mengunjungi Dataran Tinggi Dieng.

 Beruntung saya memiliki kesempatan mengunjungi tempat yang sangat menawan, syarat akan ketenangan dan memiliki history kebudayaan yang cukup unik. Setidaknya begitulah gambaran tempat peristirahatan para Dewa yang diyakini sebagai awal peradaban hindu di pulau jawa ini. Sebutan sebagai tempat peristirahatan para dewa merupakan cerita yang diambil dari etimologi setempat yang mengatakan bahwa Dieng berasal dari dua kata dalam bahasa kawi yaitu “Di” yang berarti tempat atau gunung dan “Hyang” yang bermakna Dewa, dengan demikian secara keseluruhan, Dieng diartikan sebagai pegunungan tempat peristirahatan para Dewa.

 12 jam perjalanan darat dari Jakarta saya butuhkan untuk sampai di kota Wonosobo, Jawa Tengah, sesampainya di Wonosobo, sesuai janji, saya bertemu dengan Pak Kodam, salah satu perangkat desa Dataran Tinggi Dieng yang akan menemani saya berkeliling. Kurang lebih satu jam dari kota Wonosobo, sayapun tiba di Dataran Tinggi Dieng.

 Dieng sendiri memiliki cukup banyak tempat wisata mulai candi, telaga, kawah-kawah sampai pegunungan. Selain itu Dieng juga memiliki keunikan budaya lokal yang masih terjaga.

 Candi-candi:101_7990

101_7989

Berdirinya candi-candi Dieng merupakan perkembangan kebudayaan Hindu yang diyakini dibangun pada masa kejayaan Dinasti Sanjaya, pada abad ke-8. Candi-candi yang pada jaman dahulu dibangun untuk memuliakan Dewa Siwa ini, pada perkembanganya oleh masyarakat setempat diberi nama tokoh-tokoh pewayangan dalam kisah mahabarata seperti Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembrada, Candi Bima dan Candi Gatotkaca. “Jaman dulu candi di sini dibangun hanya untuk menghormati dewa siwa, tapi karena masyarakat Dieng suka sekali sama cerita pewayangan, akhirnya nama-nama candi di sini diberi nama-nama tokoh pewayangan” Jelas Pak Kodam, salah satu perangkat desa di Dieng.

101_7945
Candi Gatotkaca

Candi-candi Dieng disusun menggunakan batu-batuan andesit yang berasal dari gunung Pakuwaja di sebelah selatan kompleks candi. Hari itu saya hanya bisa mengunjungi Candi Gatotkaca dan kompleks Candi Dieng, karena beberapa candi yang lain sedang dipugar.

Pegunungan

Dataran Tinggi Dieng terbentuk dari patahan gunung api tua yaitu gunung Prau, pada daerah patahan itulah terbentuk gunung-gunung baru yang tersebar di kawasan Dieng seperti Gunung Alang, Gunung Nagasari, Gunung Panglimunan, Gunung Pangonan, Gunung Gajah Mungkur dan Gunung Pakuwaja. Sampai sekarang pegunungan Dieng masih aktif, namun memiliki karakteristik yang khas dimana tekanan magma yang terkandung di dalamnya tidak terlalu kuat, sehingga tidak terjadi letusan magmatik seperti pada pegunungan berapi lainnya.

20130302_135716
Gardu Pandang
101_7906
Pemandangan dari Gardu Pandang
20130303_073452
Desa Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Puncak Sikunir adalah salah satu yang paling dikenal di kalangan traveller. Menyaksikan sang Surya terbit dari ufuk timur di atas Gunung Sikunir akan memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Setelah melewati desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa, kendaraan bisa diparkir di Telaga Cebong yang terletak di kaki Gunung Sikunir, perjalanan dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak yang menanjak sejauh ±800 meter. Tidak lebih dari setengah jam waktu yang dibutuhkan untuk mendaki puncak Sikunir. Pendakian puncak Sikunir membutuhkan stamina yang kuat, pun sesekali melakukan istirahat dan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, kemiringan jalan setapak yang bisa menyamai elevator gedung-gedung perkantoran ini cukup membuat saya kelelahan.

Saya memulai pendakian puncak Sikunir pukul 3 pagi agar bisa mendapatkan sunrise viewnya. Sayang perjuangan melawan dinginnya pagi Dieng saat itu tidak terbayar karena sunrise tertutup kabut yang cukup tebal.

Sayang sekali mas kabutnya tebel banget, padahal kalo langitnya cerah, kita akan seperti ada di negeri di atas awan” celetuk Pak Kodam. Sejurus kemudian saya melihat seorang fotografer yang sudah sampai di puncak lebih dulu dengan segepok peralatan foto yang harus digotong pulang tanpa hasil.

101_8046
Sunrise dari Puncak Sikunir yang tertutup Kabut
101_8063
Pemandangan dari Puncak Sikunir
???????????????????????????????
Kabut yang menyelimuti Puncak Sikunir

Kawah

Keberadaan kawah di Dataran Tinggi Dieng merupakan fenomena alam yang langka, sangat indah namun perlu diwaspadai. Dataran Tinggi Dieng tercatat sebagai kawasan yang memiliki daftar kawah terbanyak di Indonesia. Pada Tahun 1979 pernah terjadi sebuah tragedi yang cukup memilukan, pada pagi buta kala itu terjadi gempa bumi hebat yang menyebabkan Kawah Sinila meletus, gempa itu juga memicu terjadinya retakan memanjang di sekitaran Kawah Timbang dan melepaskan gas beracun yang cukup membahayakan. Gempa tersebut membuat penduduk panik dan berhamburan untuk menyelamatkan diri, celakanya mereka justru berlari ke arah retakan, sehingga banyak penduduk terjebak di lokasi munculnya gas beracun. Dalam peristiwa tersebut tercatat 149 korban meninggal dunia keracunan gas CO2 yang menyebar sampai ke wilayah pemukiman. Memang di jalur kawah Sinila, Sigruduk, Timbang dan Sumber sampai sekarang masih mengeluarkan gas beracun, sehingga praktis wilayah ini jauh dari pemukiman dan sangat tidak disarankan untuk mendekat, namun bila ingin melihat saja, ada jarak amannya, anda bisa bertanya pada penduduk sekitar.

??????????
Kawah Sikidang
???????????????????????????????
Kawah Sileri
???????????????????????????????
Jalan setapak menuju Kawah Sileri

Kawah Sikidang merupakan salah satu icon dari Dataran Tinggi Dieng. Kidang sendiri adalah nama lain hewan Kijang, yang memiliki kebiasaan suka melompat-lompat, sama seperti Kawah Sikidang yang bisa berpindah-pindah tempat. “Kawah ini dulu lokasinya tidak di sini mas, tapi justru ini keunikan dari Kawah Sikidang, dia bisa berpindah-pindah tempat pada waktu tertentu” Ungkap Pak Kodam, menjelaskan kronologis terbentuknya Kawah Sikidang.

Telaga

???????????????????????????????
Telaga Warna
???????????????????????????????
Pemandangan Telaga Warna dari puncak bukit

Dataran Tinggi Dieng memiliki beberapa danau yang sangat cantik. Salah satu yang cukup terkenal adalah Telaga Warna, Telaga ini cukup unik karena bisa berubah warna pada waktu-waktu tertentu. Perubahan warna dari telaga ini disebabkan oleh kandungan batu belerng didalamnya, ketika terpapar sinar matahari, cahayanya terbiaskan dan tertangkap oleh mata menjadi warna-warna seperti biru, hijau, kuning , hingga ungu. Pemandangan paling bagus dari telaga ini bisa dilihat dari puncak bukit di salah satu sisi telaga. Melihat Telaga Warna dari puncak bukit ini, kita akan merasakan ambience yang sangat menenangkan, angin yang berhembus semilir, hawa yang sejuk, kilauan warna jamrud Telaga Warna yang sangat indah, dan sejauh mata memandang, perbukitan hijau turut memanjakan panca indera kita.

Telaga Warna sendiri merupakan tempat yang cukup dikeramatkan, memasuki area Telaga Warna bila menyusuri jalan kekanan, kita dapat menemukan beberapa Gua yang biasa digunakan untuk bersemedi bagi mereka yang memiliki keinginan tertentu.

Sampai sekarang masih banyak yang bersemedi disini, menurut kepercayaan, setelah memenuhi apa-apa yang disyaratkan oleh juru kunci, nanti pas semedi akan ditemui  setelah itu keinginannya akan terkabul, namun pasti ada aja yang harus dikorbankan mas” Jelas Pak Kodam.

Penduduk Lokal

???????????????????????????????
Anak Gimbal

Kuliner

Traveling tanpa kuliner rasanya pasti kurang lengkap, begitupun bila berkunjung ke Dieng. Jangan lupa untuk menyempatkan diri mencicipi Mie Ongklok. Icon Kuliner Wonosobo ini sebetulnya adalah mie kuning seperti kebanyakan mie pada umumnya, tapi yang membuatnya spesial adalah penyajiannya yang direbus terlebih dahulu, tapi dicampur dengan kubis dan kucai mentah, lalu dimasukkan ke dalam saringan dari bambu dan di”ongklok-ongklok” atau dicelupkan berkali-kali ke dalam air mendidih. Selain itu, kuah yang digunakan juga berbeda. Ada dua jenis kuah, yang pertama adalah kuah kental kecoklatan yang dibuat dari saripati singkong, gula merah, ebi dan resep rahasia lainya, setelah itu mie disiram lagi dengan kuah bumbu kacang. Bagi yang suka pedas, sudah disiapkan dalam mangkuk kecil yang berbda, cabe rawit hijau yang telah dihaluskan. Biasanya mie Ongklok disajikan bersamaan dengan seporsi sate sapi, tempe kemul dan cireng/ aci (jajanan khas Wonosobo).

IMG-20130302-00574_1362199531461_n

Andai pada saat melakukan perjalanan panjangnya Elizabeth Gilbert memasukkan kawasan Dataran Tinggi Dieng dalam bucket listnya, mungkin akan timbul perdebatan batin saat dia menentukan pencarian keseimbangan hidup antara Bali dan Dieng, atau bahkan mungkin menghabiskan sepanjang tahun untuk berkeliling bumi pertiwi.

??????????
GKI, Wonosobo
???????????????????????????????
Grup Thek-Thek di kaki Sikunir
???????????????????????????????
Foto Makro di lokasi Candi Gatotkaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *