Persahabatan Bagai KeBogor

Batu Tapak 6We born to be a traveler, nenek moyang kitapun adalah seorang traveler, bahkan saya seratus persen yakin tidak akan ada orang yang menjawab tidak suka saat ditanya tentang traveling. Tapi sayang nya banyak sekali alasan yang akan muncul saat kita akan melakukan traveling, waktu, duit, temen, khusus temen, apakah memang perjalanan bareng temen akan selalu menjanjikan keseruan?

Apakah menjadi solo traveler tidak akan jauh lebih seru? Jawaban saya adalah dua-duanya seru, apalagi kalau ketemu temen yang jago ngocol dan saling pengertian.

Singkat cerita setelah mengalami perdebatan panjang bersama beberapa teman, akhir pekan ini kami memutuskan untuk berkemah di Batu Tapak Camping Ground, Cidahu, Jawa Barat. Jadwal telah ditentukan berangkat sabtu pagi pulang minggu sore. Disinilah halangan itu muncul, tiga hari menjelang keberangkatan saya ada janji meeting yang tidak bisa dipindah ke lain hari. Demi tidak mau menyakiti hati teman-teman yang sudah bermekaran bunga kamboja itu, saya pun memutuskan untuk menyusul sabtu sorenya, untung ada Luki yang mau join berangkat sore.

Selesai meeting saya langsung menjemput Luki dan dengan tergopoh-gopoh jam tujuh malam kami sudah berada di Stasiun Jakarta Kota mengejar kereta Comuterline Bogor jam 7.10. Tidak butuh waktu lama bagi kami menemukan bangku kosong, karena memang stasiun Jakarta Kota merupakan stasiun pemberangkatan awal Comuterline Bogor.

Butuh waktu kira-kira satu setangah jam untuk kami mengunyah tahu yang ditawarkan penjajah makanan di kereta dan sampailah kami di Kota Hujan, dan malam itu Bogor seolah ingin menunjukkan jati dirinya, kami disambut hujan deras, ah tapi saya rasa cukup senang rasanya, setelah beberapa hari bergulat dengan peluh di Ibu Kota.

Keluar stasiun tentu saja makan yang kami cari, perut sudah ga bisa berkompromi lagi, KFC sempat menggoda karena terlihat eyecacthing sekali saat kami keluar dari stasiun, tapi nyatanya sepiring nasi padang lebih menggoda untuk segera mungkin menghabisinya. Selesai makan saya bertanya kepada abang tukang nasi padang sebaiknya angkutan mana yang akan membawa kami lebih cepat ke Batu Tapak, mengingat malam itu sudah pukul 9, dan coba tebak apa jawabannya, TAXI, good answer, crap. Tapi tentu saja itu saran yang sangat tidak patut untuk dipilih seorang backpacker seperti saya. Dugaan saya salah, ternyata abang-abang yang saya belum sempat tanyakan namanya itu sangat baik, selain mencarikan, dia juga bilang ke sopir angkot agar menurunkan kami di ekalos, untuk berikutnya naik angkot jurusan Cicurug, turun di pertigaan Cidahu. Luluh hati ini rasanya, jarang-jarang ketemu abang-abang yang baik begini, tunggu saya bang, saya akan kembali ke kota Bogor dan tidak akan melupakanmu abangku #absurd.Image

Sampai di pertigaan Cidahu saya harus oper angkot warna putih ke Javana Spa, Batu Tapak Camping Ground ada di dekat situ, dari sinilah ceritanya mulai seru, this is the real adventure, angkot habis dan ojek tarifnya naudzubillah, kami berhenti sejenak, mencoba berpikir, berpikir, dan berpikir lagi, tiba-tiba Luki nyeletuk, “cari mobil yuk”, enteng saja saya menjawab, “mana ada dealer Luk disini”, si Luki ngejawab sewot, “dasar bego, hitchhiking donk”, saya langsung kaget, melompat dan memeluk dia, saking terharunya kami berdua menangis dan disambut tepuk tangan meriah dari tukang ojek yang mulai mengelilingi kami, aseli mulai ngawur ini ceritanya. Tapi jujur saya bener-bener exited banget saat itu, pengalaman baru nih, pasti seru.

Entah karena terpesona dengan kami yang masih muda belia ini, atau kasihan ngeliat dua orang pemuda yang lontang-lantung ga jelas jam sebelas malam saat itu, banyak teman yang bilang memang wajah kami cukup memprihatinkan sih, tapi saya yakin alasannya pasti yang pertama, kamipun mendapatkan mobil tumpangan, ransel langsung saya lempar ke atas dan langsung dengan sigap langsung melompat ke bak belakang. Mata kami sangat awas mencari papan nama bertulisakan Batu Tapak Camping Ground sampai Pak sopir membuyarkan konsentrasi dengan memberikan kabar yang cukup menyedihkan bagi seorang hitchhiker, tepat sekali, dia mau berbelok sedangkan arah kami masih lurus, kamipun menuruni mobil dengan gontai.

Kira-kira 3 kilo kami jalan kaki, kami mendapat tumpangan lagi, tapi sayang kejadiannya berulang, bahkan kali ini lebih parah, kami turun di jalanan yang mulai mengecil, gelap, dan jangankan mobil, motor yang lewatpun bisa dihitung dengan jari saya ditambah jari Luki, tidak ada pilihan lain selain jalan kaki, ganbate kudasai

Sepanjang perjlanan kami bertanya pada beberapa orang lokasi Batu Tapak, ada yang bilang tiga kilo, kami berjalan sudah cukup jauh, ketika ketemu orang lagi jawabannya juga masih tiga kilo, lalu jalan lagi, tanya lagi, dan kali ini benar-benar membuat saya shock, seorang paruh baya yang sedang menghirup kopi di sebuah pos ronda mengatakan bahwa Batu Tapak itu masih jauh, jaraknya masih 20 kilo lagi, saking ga percayanya saya sampai mau mengetesnya satu kilo tu berapa meter? Tapi si Luki buru-buru menarik saya untuk menghindari amuk massa.Image

Kurang lebih satu setngah jam perjalanan kami menemukan pos retribusi desa yang ternyata sudah dekat dengan Batu Tapak Camping Ground, saya langsung beralih dari pos sampai akhirnya suara Pak penjaga meluluhlantahkan euforia kami saat itu, “Mas, mau jalan? Jalannya sepi loh, ga ada lampu, dan masih tiga kilo”. What… tiga kilo? Kenapa lagi-lagi saya mendengar angka itu, crap. Beruntung kami menemukan tukang ojek yang berhasil menggoyahkan iman kami untuk berjalan kaki, setelah bernegosiasi kami sepakat membayar dua puluh ribu sampai ke pos Batu Tapak Camping Ground.

Di pos Batu Tapak kami disambut dua Bapak-bapak yang sedang bermain catur, dan luar biasanya menyuruh kami menunggu sampai permainan merka selesai baru mau mengantar kami turun, yang lebih membuat dada saya membuncah saat mendengarnya adalah ketika kami request kayu bakar dan beliau dengan penuh menaruh rasa hormat bertanya pada saya, “siapa yang mau membawa kayu bakarnya?”, crap. Masak cewek saya? Eh gimana kabarnya ya di kota Pahlawan, jadi kangen, ehh #curcol

Jam setengah satu pagi saya sukses memporakporandakan tenda yang di dalamnya berisi empat orang teman saya yang baik hati sekali sedang tertidur pulas sepulas-pulasnya, elven, gom-gom, lola dan wendi. Saya pun langsung menyusun kayu bakar dan tidak butuh waktu lama untuk menghasilkan bara dengan bermodalkan tisu, setelah sebelumnya sempat terganggu dengan komentar Bapak-bapak yang penuh hormat tadi yang mengatakan bahwa saya tidak akan bisa menyalakan apinya kalo kayunya tidak dipotong kecil-kecil dan di beri minyak gas. Saya tersenyum bangga saat itu rasanya, seolah habis menang adu gulat sama tu Bapak. Berat rasanya untuk saya bisa menaruh respect pada Bapak itu, yang ada di pikiran saya, apa jadinya bila ada bule yang ingin berkemah disini dan mendapat pelayanan dari Bapak, apa pandangan mereka, c’mon Pak, every business is service business.

Setelah puas bakar-bakaran, mulai jagung, ayam sampai marsmellow, kami semua tertidur sampai suara penduduk lokal yang pergi ke ladang yang mau tidak mau memaksa kami bangun. Rencananya pagi ini kami mau tracking ke air terjun. Ternyata jalan setapak yang cukup menanjak diluar ekspektasi saya, ditambah lagi beberapa orang yang saya temui lumayan bikin semangat kendur karena setiap ditanya jarak ke air terjun jawabannya selalu sama, “masih jauh mas”, thanks for answer, sampai akhirnya ada seorang cewek yang kasih tau saya kalau air terjunnya sudah dekat tapi lagi ada diklat dari salah satu SMA Bogor, bodo’ amat pikir saya, ini kan public area, ternyata waktu saya sampai air terjun, acara mereka sudah selesai, bagus lah, puas berfoto dan perang air sama temen-temen saya yang terlihat beberapa seperti alergi sama air dingin itu, saya coba meluruskan badan di sebuah batu besar, tiduran dan menikmati simphony alam yang cukup menenangkan jiwa, suara air terjun, kicauan burung, ahh perpaduan yang sangat pas. Arus air di dasar air terjun cukup deras, sehingga cukup menyulitkan saya berenang lurus, karena selalu berakhir dengan kepala kepentok batu.

Sadar waktu yang kami miliki tidak terlalu banyak, kami segera kembali ke tenda, packing, mandi bergantian di kamar mandi yang cukup dekat dari tenda, dan sempat-sempatnya gom-gom dan lola’ berdandan di tengah hutan begini, ya walaupun pada akhirnya para lelakipun ikut, termasuk saya. Hahaha.. Tanpa babibu saya menyambar plastik bulat kecil yang terlihat seperti tempat salep, berisi cream warna putih yang saya yakin itu pasti untuk wajah, sampai akhirnya si elven tanya, “itu apaan yang lu pake di wajah go?”, saya buru-buru mengambil dan membaca tulisan di kemasannya, gatsby WAX, crap.. kalian pasti sudah bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya, semua orang melihat ke arah saya dan tawa merekapun meledak melihat wajah saya yang sudah penuh dengan wax yang mulai membuat wajah saya kaku dan hanya bisa tersenyum kecut.

Keluar Batu Tapak kami mencarter angkot sampai ke pertigaan Cidahu untuk kemudian melanjutkan lagi naik angkot ke ekalos, saya sempat uring-uringan kali ini, pasalnya kami diturunkan sebelum sampai tempat tujuan dengan alasan tali gasnya putus, karena emosi saya sempat membentak sopir yang dari awal sudah terlihat tidak suka karena kami terus-terusan menawar harga yang dia tawarkan, ditambah lagi dia mau menunggu dan membawa serta ceweknya yang duduk di kursi depan, “Beneran talinya putus apa ga mau nganter sih bang?” tapi akhirnya saya pun luluh melihat si abang muka dan tangannya sudah belepotan oli, kami pun turun dan tetap memberi uang walaupun ditolak, saya jadi malu sendiri dan buru-buru minta maaf.

Untungnya tidak lama kami mendapatkan angkot untuk melanjutkan perjalanan ke ekalos dan kemudian oper satu angkot lagi ke stasiun Bogor. Perjalanan di kereta kembali ke jakarta cukup seru karena ulah beberapa teman yang konyol, mulai dari gom-gom yang mau mengambil tas, eh malah tasnya jatuh duluan dan menimpa wajahnya, sesaat berikutnya dengan tampang so’ coolnya dia clingak-clinguk pura-pura ga ada yang tau, tapi begitu dia menoleh ke arah saya dan wendi, kontan kamipun tertawa ngakak, ditambah lagi lola’ yang dengan antusias memanggil tukang koran dan membeli majalah yang menyebut namanya saja saya malu. Teman bermain dan belajar, Be O Be O, BOBO.

Pesan moral: Bukan hanya tempat wisata yang akan membuat perjalanan menjadi berkesan, tapi cerita dibalik perjalanan itulah yang lebih penting.

Dedicated to:

Elven | @elvenshouta

Gom | @ImeldaAgustina

Wendi | @Wendeelin

Lola’ | @Fiolalie

Luki | @Luki_Zakaria

NB: Artikel ini adalah pengetikan kedua kalinya, bukan karena revisi, tapi ketika selesai menulis saya gagal save, dan untuk memulainya lagi dari awal itu tantangan terberat buat menulis.

3 Replies to “Persahabatan Bagai KeBogor”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *