JELAJAH BROMO part one

View from top of Mt. Bromo

“Traveling is not just about money, but the willingness”. Inilah pepatah yang selalu memberi suntikan semangat untuk selalu menunjukkan pada dunia betapa indahnya Indonesia.

Walaupun pagi ini matahari tampak malu-malu menampakkan diri, sangat bertolak belakang dengan semangat saya dan rombongan pagi itu. Betapa tidak, hari ini adalah kali pertama kami pergi ke bromo. Haha, memang kesannya sedikit norak, tapi mau gimana lagi, kami memang belum pernah ke bromo. Berbagai persiapan tentunya telah kami lakukan dari jauh-jauh hari, mulai booking penginapan, jeep, dokumentasi, persiapan mobil, dll.

Tepat pukul 11.00 saat driver sudah menyatakan siap tempur, tanpa babibu kami pun langsung mengiyakan dan sesegera mungkin mengangkut tas perbekalan ke dalam bagasi.

Hari ini prediksi beberapa teman bahwa perjalanan ke bromo bakal macet ternyata salah besar, memang kami sempat tersendat di pasuruan karena ada perbaikan jalan, tapi selebihnya tidak ada kendala yang cukup berarti.

Memasuki kawasan bromo, udara dingin langsung menyergap tanpa memberi isyarat terlebih dulu, dan dengan pedenya kami berpura2 tidak kedinginan, walau belum memakai jaket, tapi hasilnya suara gemeratak gigi-gigi yang gemetaran pun terdengar juga, kontan hal ini membuat semua orang tertawa.

Homestay

Beruntung kami mendapatkan homestay yang tidak terlalu jauh dari loket, letaknya di depan area persawahan, dan kamipun masih sempat kebagian sunset. Puas hunting foto sunset, kami langsung bersih-bersih diri dan segera mencari surga dunia. Yap benar, apalagi yang paling nikmat bagi traveler di malam hari saat cuaca dingin kalau bukan kopi tubruk. Ternyata bukan hanya kopi, kamipun ditemani dengan hangatnya gorengan, jagung bakar, suara hewan malam yang sangat merdu, semerdu alunan tuts piano Beethoven dalam karya agungnya Moonlight Sonata. Wah pokoknya malem hari ini bener-bener perfect banget.

Rasanya baru saja kami ngeset jam weker jam 03.00, eh udah bunyi aja ni jam. Saya ingat sekali saat itu udara dingin sedang mengepung sekujur tubuh, terdengar sayup-sayup suara binatang malam yang belum berpulang ke sarang, dan sumpah, itu semua perpaduan pas  buat lanjut tidur lagi, tapi apa mau dikata, semangat kami bener-bener lagi tumpah ruah. Dua bungkus roti tawarpun langsung telentang pasrah dan menyiapkan diri untuk diolesi selai coklat kacang yang sangat menggoda. Persiapan selesai kamipun langsung naik jeep yang sudah menunggu.

Bekas aliran erupsi

Kurang lebih perjalanan setengah jam sampai tiba di penanjakkan top seruni untuk hunting foto sunrise. Deru suara mesin jeep dan sorot lampunya yang terang yang sedang berjalan saling mendahului merupakan pemandangan yang cukup menarik, mengingatkan saya pada film “300” yang membuat kita serasa berada di tengah pertempuran dengan semangat para pasukan Spartan, cukup membangkitkan adrenalin kami, dan tanpa terasa jeep telah berhenti dengan rapi pada barisannya di tempat parkir yang telah disediakan. Cukup sedih juga karena pagi itu ternyata pengunjung bromo cukup banyak dan lumayan menyulitkan untuk kita mengambil foto pemandangan tanpa gangguan penampakkan pengunjung yang sudah bisa dipastikan juga memiliki tujuan yang sama.

continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *